Header Ads

Hartono Tanuwidjaja SH.MH.MSI : Virus Miskin Lebih Berbahaya Dari Pada Virus Corona.


Teks foto : Hartono Tanuwidjaja SH.MSI.
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Penyeberan virus corona memang sudah hampir keseluruh penjuru negara di dunia termasuk di Indonesia. Dan ketika tulisan ini dibuat  penderita penyakit Corona dinegeri ini berjumlah 27 orang, dan bererapa diantranya  dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Sunter, Tanjung Periuk Jakarta Utara.

Pengacara senior Hartono Tanuwidjaja SH.MH.MSi angkat bicara terkait masalah virus corona ini. Katanya,  pemerintah dalam mengatasi masalah ini baru memyiapkan Protokol ( pedoman penanganan  Virus).

Jadi menimbukan tanda tanya, bagaimana Pemerintah menyikapi serangan virus corona ini, sedangkan  protokolnya saja baru disiapkan. Artinya, negara tidak saiap. Ibaratnya,  musuh sudah masuk, kita baru mencari bedil, belum lagi beli pelurunya.

Jadi , tambah Hartono, rupanya baru ada rapat koordinasi (rakor) di Istana negera yang membahas dua hal tanggal 4 lalu, pertama membahas protokol corona akan disiapkan, dan kedua satgas untuk menelusuri penyebaran virus korona tersebut.  Protokol corona itu ada 4 jenis; 
1 Masalah Kesehatan,
2 masalah Komonikasi,
3 masalah Pendidikan dan
4 masalah Pencegahan,kata Hartono.
Kenapa protokol Intelijen/militer  tidak dimasukkan, padahal ada indikasi/suara , bahkan ditegaskan oleh negra Iran yang disebut virus corona itu adalah senjata kimia. Apakah itu sumbernya dari AS atau China, atau mereka berdua.

Yang dibahas dalam rakor di Istana  tersebut justru  berbanding terbalik dengan faktor faktor yang ada dimasyarakat yaitu, pada awal Januari lalu, WIN di Wuhan China, sebanyak 239 WNI Indonesia yang ada disana  diefakuasi karena adanaya  virus corona.

Tapi diakhir bulan,  Preseden Jokowi mengumumkan  ada 2 WNI yang memderita suspek corona dan dirawat di RSIP Silianti Suroso, tapi ternyata belum tentu terkena penyakit corona.

Tambah Hartono, gara-gara setmen Peresiden Jokowi tersebut, muncul setmen setman dari yang lainnya, seperti Gubernur, Bupati/Walikota, tapi beda semua. Bahkan ada angka yang dilaporkan 135 suspek ci orona, disini, disitu dan lainya. Inikan  membingungkan kita.

Belum selesai kebingungan masyarakat terkait kelangkaan masker, ternyata ada penimbunan masker. Polisi bergerak cepat, dan menyita masker masker itu dan menjualnya kepada masyarakat Rp 4 ribu/10 masker. Saat itu pembeli mulai nganteri beli masker sampai keluar dari halaman Polres Jakarta Utara.

Pengjualan masker oleh Polisi ini katanya Diskresi, padahal kalau barang sitaan, tidak boleh dijual belikan. Karena urgensi kelangkaan masker,  nanti penjualan barang sitaan itu uangnya dijadikan barang bukti. Artinya kewenangan Polisi ini  berjalan sendiri.

Nah, yang lebih mengerikan lagi adalah  munculnya pernyataan Presiden  Jokowi, yang menyarankan agar masyarkat tak usah takut secaara berlebihan terhadap virus corona ini , karena 94 % penderitanya dapat disembuhkan.

Dari pernyataannya ini saya tidak tahu, apakah Jokowi menerima intruksi dari menteri kesehatan yang berkeahlian sebagai dokter Tapi rada kebablasan juga ini, karena dia menyatakan virus corona dapat disembuhkan.

Ditempat yang berbeda, Jokowi mengatakan, musuh terbesar kita saat ini adalah rasa cemas, panik, ketakutan, berita hoax dan rumor.

Di Singapura masker dibagi-bagikan kepada  masyarakat, tapi dikita,  masker malah dijual kepada masyarakat, berbeda,  kan.  Dan Polisi kita mengatakan, orang tak boleh timbun masker.

Mahasiswa di Jakarta dan Makasar ditangkap karena timbun msaker. Tapi jelas jelas Walikota Surabaya Risma,  mengatakan dirinya menimbun masker sejak tahun lalu, tapi tidak ditangkap. Jadi semuanya ini masih bias.

Davit Tobing SH pengamat sosial yang juga pengacara itu pernah mengatakan, tidak tepat penimbun masker itu dipidanakan.  Hartono memberi  contoh, orang penjual beras pasti stok beras,  orang penjual kambing pasti stok kambing. Jadi orang yang stok barang untuk dijual kok dibilang menimbun, itu tidak benar. Pedanggang itu kan mau mencari untung , wajar dong kalau menimbun.

Benerapa waktu lalu ada setman dari orang Majelis Ulama Indonesia ( MUI) yang mengatakan, virus corona itu berasal dari daging babi, Tentara Allah Turun. Pernyataan ini membuat suasana jadi kacau.

Menurut irformasi,  awalnya virus corona ini berasal dari Wuhan China, dari  orang yang suka memakan kelelawar dan babi. 

Tapi kenyataanya, orang Manado itu suka makan kelelawar, tapi tidak ada yang kena virus corona. Orang Batak suka makan babi, tapi tidak ada yang terkena virus corona. Malah  orang Depok yang tidak makan kelelawar dan babi terkena virus corona. 

Jadi kita ini negeri yang kebanyakan ngomong, jadi kacau. NKRI diartikan  menjadi Negara Kacaukan  Rakyat  Indonesia. 

Apa lagi menteri Sri Mulyani melalui koran ibu kota mengatakan  corona lebih mengerikan dari pada krisis ekonomi tahun 2008.

Menteri kok malah menakut-nakuti. Padahal yang lagi anjlok itu ekonomi masyarakan secara umum, maka semuanya dipajakin.

Dan akhirnya mayarakat yang semakin bingung. Mau dibawa kemana negeri ini.
VIRUS MISKIN LEBIH MEMBAHAYAKAN.

Nah,  peran kita sebagai pemerhati sosial, saya akan mengungkap, sebenarnya kalau kita mau ambil berita yang  bombas, kita harus buat tulisan yang menyatakan bahwa " Firus Miskin"  lebih berbahaya dari pada virus corona, sebab, virus corona itu yang memembuat daya tahan tubuh menjadi lemah , dan hanya dapat bertahan hidupnya  selama beberapa jam saja. Kalau orang badannya sehat dan imunitasnya baik, tak akan terserang virus corona.

Kata Hartono kemdian, kalau bicara virus miskin, dalam hal ini,  miskin  itu artinya orang  bertahun tahun hidupnya begitu begitu saja. Padahal  sekarang Indonesia ini disebut sebagai  negara maju, bukan negara berkembang lagi, tapi masih punya 9%/24 juta masyarakatnya miskin.

Masyarakat yang terkena virus miskin ini tidak sadar . Dan orang orang yang disebut miskin ini hidupnya ya,  begitu -begitu saja, jalan kaki, naik motor, naik angkot dan lainnya  hingga bertahun tahun lamanya, bahkan sampai 10 atau  100 tahun,  mungkin.

Masyarakat kita tidak sadar kalau virus kemiskinan ini jauh lebih berbahaya dari pada virus corona ini. Karena kemiskinan itu membuat kita jadi bodoh. Orang lain sudah memikirkan ke bulan,' ke mars,  kita masih disini sini aja.

Virus corona nggak penting, yang penting virus kemiskinan yang harus diberantas.
Jadi kita perlu membangunkan optimisme masyarakat karena penyakit itu pasti datangnya dari masyarakat, diamana masyarakatnya memakan makanan yang berasal  dari alam lingkungannya.
Orang sakit corona atau tidak sakit, masalahnya ada nggak jaminan kesehatannya buat masyarakat tersebut. " Saya  sakit struk, bukan tidak nasionalisme atau banyak duit, tapi saya melihat pelayanan yang berbeda dengan dr di Indonesia dengan dr di Malaysia.

Setmen dari dr Ripka  Ciptaning pernah mengatakan, banyak orang besar dari sini yang  berobat ke luar negeri, ke Inggris, Singapura atau ke Malaysia dan lainnya. Disini ( Indonesia) orang berobat dioperasi, disana tidak. Disini biayanya puluhan juta, tapi disana hanya Rp 3-4 juta saja. Beda, kan?

" Waktu saya struk, dr di Penang tidak bilang saya itu struk, dia hanya bilang,kamu motoriknya terganggu, sehingga fungsi dikanan tidak berjalan. Kemudian saya dikasih obat, dan sekarang sembuh.

Tetapi dr di Indonesia secara umum cuma bertanya apa yang dikeluhkan selama ini, kemudian diperiksa seadanya. Dr di Malaysia memeriksa saya secara detil, di Indonenesia tidaklah begitu.

Jadi pelayanannya di Indonesia dengan di luar negeri itu berbeda jauh. Saya kalau tidak berobat ke Penang Malaysia mungkin saya sudah jatuh struk, sebab waktu itu omongan saya sudah pelo. Dan setelah dikasih obat, termasuk baut  pengencer darah, sakit saya sembuh", kata Hartono mengakhiri wawancaranya (SUR).



No comments

Powered by Blogger.