Header Ads

Prof Dr OC Kaligis Lawan Tergugat Bareskrim Polri Dan Polda Metro Jaya Gagal Mediasi.

Suasana sidang gugatan di PN Jaksel
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Hakim  Mediasi Fahmiron SH dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan gagal memdamaikan antara Penggugat Prof Dr OC Kaligis SH.MH sebagai Pengguggat,  melawan Bareskrim Polri (Tergugat I) dan Polda Metro Jaya (Tergugat II) Rabu 6 November 2019.

Dalam sidang mediasi antara Penggugat dengan para Tergugat tidak dapat berdamai dalam kasus Dr Denny Indrayana SH  sebagai tersangka dalam kasus korupsi implemntasi/pelaksanaan Payment Gateway pada  Kemenkumham  tahun anggaran 2014 yang disidik para Tergugat,  namun   hingga kini belum dilimpahkan ke Kejaksaan. 

OC Kaligis foto bersama
Karenanya, kasus ini oleh majelis hakim perdata yang diketuai Suswanti SH.MH dinyatakan berlanjut dengan agenda pembacaan gugatan Penggugat.

"Apakah  gugatan Penggugat  ada perubahan dan   atau  saudara  Penggugat siap untuk membacakan gugatanya sekarang?, tanya hakim Suswanti SH.MH.

" Gugatan tidak ada perubahan atau perbaikan. Dan surat gugat dianggap sudah dibacakan, yang mulia", kata Penggugat Prof Dr OC Kaligis SH MH.

Setelah mendengar jawaban Penggugat, majelis hakim Suswanti akhirnya menunda sidang selama satu minggu untuk memberikan kesempatan  para Tergugat memberikan jawaban terhadap gugataan  Penggugat.

Sepertidiberitakan BERITAONE.COM sebelumnya,  Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI cq Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri dan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya cq Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, digugat oleh pengacara senior Prof Dr Otto Cornelis Kaligis SH.MH (OCK) di  Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Gugatan yang terdaftar di kepaniteran pengadilan  dengan NO: 804/Pdt.G/2019/PN.Jaksel tanggal 24 September 2019. Pokok persoalan gugatan ini  tentang pihak Kepolisian yang pada tahun 2015  pernah menetapkan mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Dr Denny Indrayana sebagai tersangka dalam kasus korupsi implemntasi/pelaksanaan Payment Gateway pada Kemenkumham  tahun anggaran 2014.

Namun, kasus tersebut sampai kini masih  mangkrak dikepolisian dan belum dilimpahkan kembali ke pihak Kejaksaan/penuntut umum untuk disidangkan ke pengadilan. Karenanya OCK menggugat kedua intansi Kepolisian tersebut.

Dalam posita gugatannya OCK mengatakan, Tergugat 24 Febuari menerima laporan Polisi NO: LP/226/II/2015 tahun 2015 dengan terlapor Denny Indrayana dengan dugaan   melakukn tindak pidana korupsi kegiatan inplementasi/pelaksanaan Payment Gateway pada Kemenkumham RI tahun anggaran 2014.

Pada  laporan Polisi tersebut Denny Indrayana dilaporkan telah mengintruksikan penunjukan dua vendor "payment  gataway" sekaligus memfasilitasi pengoperasian disistem tersebut.

Atas penunjukan dua vendor tersebut , diduga adanya pembukaan rekening  bank swasta dan nama perusahaan  rekanan. Rekening bank tersebut kemudian digunakan untuk menampung dana sebelum disalurkan ke kas negera. Dalam sistem ini juga memungut biaya tambahan sebesar Rp 5 ribu dari seriap pemohon paspor.

Dengan laporan masyarakat  tersebut  Tergugat I segera melakukan penyelidikan, dan akhirnya pada 24 Matet 2015 Tergugat I mengumumkan kepada masyarakat bahwa Denny Indrayana ditetapkan sebagai  tersangka pada kasus dugaan tindak pidana korupsi pelaksanaan Payment Gateway pada Kemenkumham RI tahun 2014 tersebut.

"Akan tetapi, berkas perkara Denny Indrayana yang awalnya diperiksa oleh Tergugat I, namun melalui surat NO: B/3808//VI/Res/3.2/2018/Bareskrim tanggak 22 Juni 2018, tampa alasan yang jelas, Tergugat I secara diam diam  melimpahkan " Berkas  Perkara"  tersebut  kepada Tergugat II, namun sampai saai ini Tergugat II tidak melanjutkan pemeriksaan atas perkarka dengan tersangka Denny Indrayana tersebut,"  kata OCK.

Tindakan pelimpahan berkas perkara dengan tersamgka Denny Indrayana dari Tergugat I ke Tergugat II menimbulkan tanda tanya besar, karena bagaimana mungkin Tergugat melimpahkan berkas perkara tersangka Denny Indrayana dalam dugaan tindak pidana korupsi  Payment Gateway,  menginyat penyidikan yang dilakukan Tergugat I sudah sampai pada pengiriman berkas ke Kejaksaan Agung RI. Apakah Tergugat I takut terhadap Denny Indrayana ?

Masih kata OCK, sejak Tergugat II menerima pelimpahan  berkas perkara dari Tergugat I sampai dengan gugatan ini diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, seharusnya Tergugat II menanganinya dengan profesional dugaan tindak pidana korupsi di Kementrian Hukum dan HAM tahun 2014 ini dengan tersangka Denny Indrayana.

Kalaupun Tergugat II menilai berkas perkara yang dilimpahkan Tergugat I tanggal 22 Juni 2018 sudah lengkap, seharusnya tergugat II segera melakukan penyelesaian perkas dan menyerahkan kepada Jaksa Penuntut Umum sebagaimana dimaksut dalam pada 110 KUHP jo Pasal 73 -75 Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI NO; 14 tahun 2012 tentang Menejemen Tindak Pidana.

Sangatlah aneh apa bila Tergugat II tidak sapat meneruskan pemeriksaan lanjutan atas pelimpahan perkara dari Tergugat I, mengingat pada awalnya pemeriksaan Tergugat I telah menemukan unsur terjadinya dugaan tindak pidana  korupsi dalam kegiatan Payment Gateway pada Kemenkumham tahun 2014 yang telah melakukan pemeriksaan saksi saksi dan proses gelar perkara dan ditetapkan bahwa Denny Indrayana sebagai tersangka, sehingga memimbulkan banyak pertanyaan pada  Penggugat dan masyarakat , ada apa dengan Tergugat II yang menangani perkara dugaan tindak pidana kurupsi dengan tersangka Denny Indrayana?

Karena tidak adanya perkembangan yang jelas mengenai penanganan perkara dugaan korupsi di Kemkumham pada tahu 2014 dengan tersangka Denny Indrayana, telah membuat kerugian bagi Penggugat sebagai Advokat Senior yang melihat dan merasakan  adanya tebang pilih yang dilakukan oleh Tergugat II dalam mengangai perkara yang sama sama menjadi sorotan masyarakat.

Sebagai contoh;  dalam kasus Dana Kemah dan Apel Pemuda Islam (PII) dengan tersangka Ahmad Fanani yang juga disidik oleh Tergugat II berkas perkara tersebut  telah disusun dan tinggal menunggu pelimpahan berkas tersebut ke Kejaksaan. 

Sementara perkara Denny Indrayana tidak terdengar  lagi perkembangan penyidikannya. Sehingga terkesan Para Tergugat tidak bisa menyentuh tersangka Denny Indrayana yang seakan  akan kebal hukum.

Selain itu, tindakan Tergugat II sepertinya pelindungi tersangka Denny Indrayana, mengingat yang bersangkutan dikenal sebagai penggiat  anti korupsi yang sangat getol menuntut para koruptor. 

Namun,  yang bersangkutan ternyata menjadi tersangka dugaan tindak pidan korupsi pelaksanaan Payment Gateway di Kemenkumham.

Untuk itu, pengacara OCK menggugat dua intansi tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Majelis Hakim yang menangani perkara ini dimohon untuk  mengabulkan gugatan Penggugat secara keseluruhan, yang antara lain yaitu, melimpahkan kasus Dr Denny Indrayana ke Kejaksaan/Penuntut Umum untuk disidangkan.

Menghukum ganti rugi kepada para Tergugat   Rp 11 juta dengan rincian Rp Rp 1 untuk kerugian materiil dan Rp 10 juta Immaterial karena para tergugatan telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum.
Bila hakim berpendapat lain agar memutus yang seadil adilnya, kata Penggugat diakhir petitumnya (SUR).




No comments

Powered by Blogger.