Header Ads

Walikota Prabumulih ir. Ridho Yahya Setengah Hati Tangapi Masalah Tapal Batas Muara Enim- Prabumulih

PRABUMULIH, BERITA–ONE. COM-Polekmik Penegasan Tapal Batas antara Kabupaten Muara Enim dengan Prabumulih takkan pernah usai, hal tersebut diungkap Walikota Prabumulih Ir.H.Ridho Yahya, MM saat diwawancarai disela acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah janji Pimpinan DPRD Kota Prabumulih diruang rapat Paripurna, Jumat (11/10)

Ridho mengatakan jika saat ini Pemerintah Kota Prabumulih sudah menyurati hal tersebut namun dirinya berpendapat jika Prabumulih merupakan anak dari Muara Enim yang harusnya berterima kasih atas pemberian wilayah oleh Muara Enim
“Kita kan tangan dibawah jadi kita terima apa yang mereka (Muara Enim.red) berikan ke kita” Ucapnya

Dalam wawancara itu Walikota Beranggapan tidak perlu memiliki wilayah yang besar jika masyarakatnya tidak sejahtera

“Untuk apa sih wilayah besar, yang penting itu kesejahteraan masyarakat, nah mereka (masyarakat.red) masih menggunakan pola pendekatan lama, yaitu pola SDA” tambahnya

Pola pendekatan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimaksud dimana banyak sumber SDA kalau bisa menjadi wilayah Prabumulih dengan demikian Sumber Daya Alam yang memiliki aset besar dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah, namun hal tersebut merupakan cara lama, kata Ridho

Orang nomor satu di Kota Nanas itu juga menyarankan jika wilayah Prabumulih ada yang dekat dengan Wilayah Kabupaten Muara Enim untuk mempersilahkan ke wilayah tersebut

“Kita kalau ada Prabumulih agak dekat dengan Muara Enim, ambil lah Muara Enim, yang penting dia pelayanan untuk masyarakatnya lebih cepat” tegasnya

Sementara itu, Ketua Koalisi Masyarakat Gunung Kemala (KMGK) Mat Yunus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan Pemerintah seharusnya tegas dengan permasalahan ini jangan membiarkan batas yang dipertahankan Masyarakat menjadi polemik

“itu bukan omongan seorang walikota, batas yang jadi permasalahan itu merupakan batas yang sudah di sahkan oleh Pemerintah pada waktu Prabumulih pisah dengan Muara Enim”

Perlu diketahui tapal batas yang saat ini jadi polemik merupakan pergeseran yang kedua kalinya yang awalnya terletak di Lebung Kure dan saat ini begerser ke arah Stasiun Pengumpul (SP) 7 PT.Pertamina dengan kata lain sekitar 2 kilometer wilayah muara enim telah menggeser Wilayah Prabumulih

“kita akan melakukan musyawarah, dan akan melakukan perlawanan dengan berunjuk rasa menuntut Pemerintah Prabumulih secara tegas menyelesaikan permasalahan ini” tegasnya (B1)

No comments

Powered by Blogger.