Header Ads

Tanah Milik Mantan Istri Walikota Jakarta Timur Jadi Sengketa


Hartono Tanuwidjaja SH.MH.MSI
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Sebidang tanah  dan bangunan bekas SPBU 
dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) No.372/Tebet seluas 1.225 M2 atas nama Zainuddin Olie di Jl Prof. Dr. Supomo Tebet, Jakarta Selatan, kini menjadi obyek sengket.

Zaenuddin  Olie memiliki  tahah terasebut berdasarkan Akta Jual Beli No.0372/I/1982/Tebet tanggal 27 Desember 1982 dihadapan Haji Zawir Simon, SH, Notaris di Jakarta,  obyek tanah tersebut  dikenal dengan nama  tanah  Jl. Prof. Dr. Soepomo No.49, Tebet - Jakarta Selatan.

Tanah yang dimaksud sekarang menjadi permasalahan hukum, baik pidana maupun perdata, karena adanya seorang makelar tanah  bernama Abdullah Nizar Assegaf (ANA), dinilai  tidak bisa menyelaseikan  surat tahah tersebut seperti yang dijanjikan, sehingga korban merasa ditipu.

Pengurusan surat  tanah yang dikerjakan tersangka ANA ini, dengan obyek tanah yang semula milik istri mantan Walikota Jakarta Timur, Ny Samsiar dengan status SHGB NO: 372 yang kemudian berubah kepemilikan menjadi milik  Jainuddin Olie  dengan membuat PPJB No.9/2016 dengan Ny RR Sri Suharni Iskandar.

Selanjutnya tanah dimaksud di atas dijual kepada pengusaha Deepak Rupo Chugani oleh  Zainuddin Ollie harga Rp 26,3 Miliar lebih, melalui perantara  ANA.

Selain  sebagai perantara, ANA juga menyanggupi mengurus surat surat  tanah yang sudah habis masa berlakunya itu menjadi  atas nama  pembeli Deepak Rupo Chugani.

Guna kepengurusan  balik nama tanah tersebut ANA  meminta biaya Rp 4 M kepada Deepak. Dan  Deepak percaya lalu  memberikan uang yang dimaksud karena ANA memberi jaminan sebuah cek/counter chek  sebesar Rp 4 Miliar.

Kemudian  ANA minta lagi uang tambahan pengurusan surat tanah itu Rp 3 Miliar. Hingga total uang yang sudah diterima ANA Rp 7 Miliar. Padahal sampai Juli- Agustus 2016 surat belum selesai tapi ANA sudah minta tambahan. Sampai dua bulan kemudianpun , surat tanah yang dimaksud belum selesai juga.

Habis kesabarannya, pengusaha  Deepak,
mempercayakan kepada  pengacaranya Hartono Tanuwidjaja, SH, MSi, MH, untuk  mengecek kebenarannya couter chek sebesar Rp 4 Miliar dari tersangka ANA, ternyata chek kosong, tidak ada dananya.

Pengacara Hartono  lalu mensomasi ke tersangka ANA pada 20 Februari 2017, dan membuahkan hasil, karena pada 22 Februari datang kurir/kuasa ANA bernama Dedy Prihambudi menemui Hartono Tanuwidjaja menyerahkan 4 lembar chek yakni 3 lembar chek itu (BCA) masing masing bernilai Rp 1 (satu) Miliar dan yang  satu lembar lagi bernilai Rp 4 Miliar.

" Tiga  lembar chek masing masing berniuai Rp 1 Miliar, ada dananya. Tapi untuk chek yang bernilai Rp 4 Miliar, kosong," tutur Hartono Tanuwidjaya di kantornya.

Somasi ke-2 dari Hartono Tanuwidjaja  terhadap ANA pada 14 Juli 2017, yang kemudian diteruskan somasi ke-3 pada 7 Agistus 2017. Tanpa pemberitahuan dan sepengetahuan kami ternyata ANA mentranfer ke kami Rp 500 juta, kata Hartono.

Kemudian  pada tanggal 13 November 2017 ANA mengirimkan lagi chek BCA Rp 3,5 Miliar. Akan tetapi  sebelum pengiriman chek terakhir ini terjadi,  ANA sudah dilaporkan ke polisi dengan LP/1189/K/X/2017/PMJ/RESJU,  11 Oktober 2017 di Polres Metro Jakarta Utara.

"Jadi perlu saya jelaskan bahwa, kerugian klien saya Mr Deepak Rp 3,5 Miliar. Dan ANA sudah jadi tersangka sejak 14 Maret 2019," ungkap Hartono Tanuwidjaja.

Tersangka ANA dilaporkan ke Polisi karena   menjual  barang milik  orang lain kepada Deepak,  dan kasusnya kini menunggu P-21 dari pihak kejaksaan. " Selain dilaporkan ke Polisi makelar  ini , kita gugat juga di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan", kata Hartono.

Kasus  perdatanya ,  Deepak Rupo Chugani (Penggugat), telah mengajukan gugatan melalui kantor Hartono Tanuwidjaja & Partner terhadap tersangka ANA di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dengan register di bawah daftar No:409/Pdt.G/2018/PN Jkt Sel tertanggal 28 Juni 2018.

Abdullah Nizar Assegaf (Tergugat I), Ny RR. Sri Suharni Iskandar ( Tergugat II), Hansraj D Jatiani (Tergugat III) dan Abdul Malik Suparyaman, SH, MKn Notaris di Bekasi (Turut Tergugat).

Dalam gugatan  disebutkan bahwa antara Penggugat dengan Tergugat II telah sepakat untuk mengikatkan diri dalam suatu Perjanjian Pengikatan Jual Beli No.9 Tahun 2016 yang dibuat dihadapan Notaris Abdul Malik Suparyaman dengan jual beli sebesar Rp 26.337.500.000.

Namun tanah yang menjadi obyek itu ternyata  belum beralih  nama menjadi nama Tergugat II,  tapi masih atas nama pemilik sebelumnya Zainudin Olie,  karenanya Tergugat II memberi kuasa sepenuhnya  kepada Tergugat I sebagaimana surat kuasa dari Tergugat I  berjanji untuk mengurus balik nama obyek tanah aquo  langsung menjadi ke atas nama Penggugat.

Tentang  biaya pengurusan balik nama itu, Tergugat minta dana Rp 4 M. Dan Penggugat telah menyerahkannya kepada Tergugat III sejak 1 Juli 2014 hingga 27 Agustus 2014.

Selanjutnya, dengan melalui surat 26 Juli 2016 Tergugat I meminta tambahan biaya Rp 3 Miliar dan berjanji akan menyelesaikan SHGB No.372 dalam tempo 2 minggu.

Permintaan Tergugat dipenuhi Penggugat dengan memberi Rp 3 Miliar. Dan Penerimaan seluruh uang Rp 7 Miliar itu dibuat Tergugat dalam tanda terima tanggal 13 November 2017.

Menurut Hartono, perbuatan Tergugat tidak menyelesaikan pengurusan balik nama atas tanah dan uang  yang telah diterima Tergugat adalah perbuatan ingkar janji/wanprestasi.

Pada petitum  gugatanya,  Hartono mengajukan sita jaminan atas tanah dan bangunan milik dan/atau kepunyaan Tergugat I, yang terletak di Jl. Limo No.42 C, Rt.007 Rw.10 Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (SUR).




No comments

Powered by Blogger.