Header Ads

Kasus Penipuan Properti Berhasil Dibongkar Polisi


Petugas tunjukan barang bukti.
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Polda Metro Jaya (PMJ) membongkar penipuan properti berkedok pemalsuan surat. Tiga orang masing-masing berinisial DH, DR, dan S, dibekuk dan ditetapkan sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyebut masing-masing pelaku mengemban tugas berbeda. "DH ini residivis, dia mencari calon pembeli dan orang yang menjaminkan sertifikat hak milik (SHM) korban.

Lalu DR berperan sebagai notaris dan S mengerjakan seluruh proses balik nama," ungkapnya, di Kompleks Perkantoran Wisma Iskandarsyah, Jalan Iskandarsyah Raya, Jakarta Selatan, Jumat kemarin.
Menurut Kabid Humas, para pelaku beraksi selama setahun terakhir.

Seseorang berinisial VYS menjadi korban pertama dan satu-satunya dari aksi tersebut. 

Kasus bermula ketika korban VYS berencana menjual tanahnya seluas 1.431 meter persegi yang terletak di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Korban mengenal DH dari seorang broker bernama Ronal yang saat ini masih dicari.

"Atas kesepakatan korban dengan tersangka DH, jual beli itu disetujui dengan harga Rp15 miliar," ujar Kabid Humas.

DH kemudian meminta korban menyerahkan sertifikat asli tanah yang akan dijual untuk diserahkan kepada kantor notaris atas nama Idham dengan alasan akan dilakukan pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Kantor itu merupakan kantor palsu yang sudah disiapkan pelaku.

"Di situ DR dan DH meyakinkan korban bahwa kantor notarisnya sangat bonafide dan sudah sangat berpengalaman," tutur Kabid Humas.

Korban yang percaya memberikan sertifikatnya dan langsung dimanfaatkan pelaku.

Pelaku langsung melakukan balik nama atas sertifikat yang sudah diberikan oleh korban. 

"S yang mengurus perizinan balik nama sendiri mulai dari perizinan dari RT, lurah, sampai ke BPN (Badan Pertanahan Negara)," tambah Kabid Humas.

Kabid Humas mengatakan usai pengurusan balik nama, pelaku langsung menggadaikan sertifikat milik korban di daerah Cianjur, Jawa Barat. 

Pelaku pun mengantongi uang sebesar Rp5 miliar dari hasil gadai.
Dari uang itu, sebanyak Rp1 miliar digunakan untuk bea balik nama dan Rp500 juta diberikan kepada korban sebagai uang muka pembayaran rumahnya yang dijanjikan akan segera dilunasi.

Kecurigaan korban bermula pada 6 April 2019 saat dibuatkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) di kantor notaris Idham oleh pelaku DR. 

Pembuatan akta PPJB itu pun diringi janji pelunasan paling lambat sepuluh hari. Namun usai pertemuan pelaku tak kunjung melunasi dan sulit dihubungi.

"Korban lantas membuat laporan ke BPN. Laporan diterima Polda Metro Jaya pada 11 Juli 2019 dan langsung ditindak lanjuti," pungkas Kabid Humas.

Humas PMJ mengatakan, atas tindakannya tersangka dikenakan Pasal 263 KUHP, Pasal 266 KUHP, dan Pasal 372 KUHP. Ancaman hukuman bagi pelaku yakni kurungan maksimal tujuh tahun. (SUR).



No comments

Powered by Blogger.