Header Ads

Enam Panitera Gadungan Mengaku Dari Makamah Agung Yang Melakukan Penipuan Digulung Polisi

Kabid Humas PMJ Kombes Pol Argo Yowono dalam konperensi Pers soal  enam Panitera gadungan tersebut.
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Enam orang sindikat penipu yang berpura-pura menjadi panitera senior dari  Mahkamah Agung (MA) dan mengaku mampu membantu mengurus  perkara, kemudian meminta imbalan uang, digulung  aparat Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, enam tersangka yang ditangkap atas nama Andi (pimpinan kelompok), Riswan, Agus, Eko, Suwardi, dan Sarman. Para pelaku berbagi peran dalam menjalankan aksinya.

"Ada enam tersangka yang ditangkap. Andi ini sebagai kapten, pimpinannya. Dia yang mengatur semua. Jadi ada yang mencari data di website MA, ada yang mengaku sebagai panitera, menyiapkan dokumen, ada yang pegang rekening," ujar Kabid Humas, di Mapolda Metro Jaya, Jumat kemarin.

Kabid Humas menyampaikan, modus tersangka awalnya mencari data melalui website MA. "Jadi MA memiliki website, semua agenda sidang tertera di sana. Website ini bentuk transparansi MA, isinya terkait jadwal, perkara yang sedang ditangani, dan lainnya," ungkap Kabid Humas.

Sindikat ini mengambil data perusahaan atau perorangan yang sedang berperkara di website MA. Kemudian, mereka mempelajari kasusnya. 

"Selanjutnya, ada yang menelepon dan menyampaikan data-data apakah benar sedang berperkara ini. Kemudian menawarkan, 'kami dari panitera bisa mengurus kasus bapak-ibu'. Lalu dia meminta imbalan," katanya.
Biasanya sindikat ini meminta uang muka sebesar 35 persen. "Karena korban percaya, akhirnya dikirim uang. Tapi setelah dicek ternyata tertipu," jelas Kahumas.

Mrreka beraksi di sebuah rumah, di Bekasi. Mereka sudah menjalankan aksi sekitar 3 tahun belakangan. "Mereka juga menipu (pura-pura menjadi panitera) di Pengadilan Negeri. Dia tahu kasus dan jadwal, data print, dia telepon korban dan meminta sejumlah uang," katanya.

Selain itu, tambah Kabid Humas, mereka menyasar bendahara kantor kedinasan. Modusnya, mereka menelepon bendahara dan berpura-pura menjadi kepala bidang atau pejabat yang mau pindah tugas. "Dia mengaku merasa tidak tahu menahu sebagai pejabat baru harus mengurus apa, kemudian dia meminta dikirimkan uang," jelasnya.

Menurut Kabid Humas, tersangka Andi bisa membeli sebuah rumah dari hasil penipuan itu. Polisi pun menyita barang bukti uang Rp 350 juta dari tangan tersangka.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk jangan percaya dengan adanya telepon yang menawarkan bantuan. Tidak usah mempercayai orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Artinya, semua sesuai dengan jalur hukum yang ada," tandasnya.

Akibat perbuatannya, kata Humas PMJ,  para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 4 dan Pasal 5 Juncto Pasal 2 ayat (1) huruf r dan atau z Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian, dengan ancaman hukuman penjara 7 tahun dan atau 20 tahun. (SUR).



No comments

Powered by Blogger.