Header Ads

Terbukti Korupsi Dua Terdakwa Dituntut 22 Tahun Penjara

Jakarta,BERITA-ONE.COM-Dua Terdakwa Andi Wiranto dan Ali Nurdin yang melakukan korupsi hingga negara  memderita kerugian sebesar Rp 566 milyar lebih  oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri  (Kejari) Kota Bandung dituntut hukuman selama 22 tahun penjara potong tahanan.

Rinciannya, Andi Winarto Direktur Utama PT. Hastuka Sarana Karya,  dengan pidana penjara selama 15  tahun dan denda sebesar Rp 1 milyar subsidiair 6 bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp. 631 milyar lebih subsidiair 7 tahun 6 bulan.

Sedangkan untuk terdakwa Ali Nuridin, mantan Direktur Utama Bank Jawa Barat Banten Syariah (BJB Syariah)  dipidana penjara selama 7 tahun dan denda    Rp. 500 juta subsidiair 6  bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp1,6 milyar lebih  subsidiair 3  tahun 6 bulan.

Menurut Kapuspenkum Kejagung DR Mukri SH.MH mengatakan,  tuntutan terhadap mereka / keduanya dilakukan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung Jawa Barat, Senin,  1 Juli 209.

Dalam requisitornya JPU  menyatakan,  para terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam pembiayaan Bank Jawa Barat Banten Syariah (BJB Syariah) kepada PT. Hastuka Sarana Karya tahun 2014 s/d 2015 untuk pembelian kios oleh 161 End User pada Garut Super Blok dan pembiayaan BJB Syariah kepada CV. Dwi Manunggal Abadi tahun 2016 yang dilakukan secara bersama-sama.

Pebuatan para terdakwa terbukti  sebagaimana diatur dalam Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Kasus tindak pidana korupsi ini terjadi, dimana terdakwa Andi Winarto selaku Direktur Utama PT. Hastuka Sarana Karya (Dirut PT. HSK) dan pengguna tidak sah CV. Dwi Manunggal Abadi (CV. DMA) bersama-sama dengan Yocie Gusman selaku Direktur Pembiayaan BJB Syariah (sudah dihukum)  dan Terdakwa Ali Nuridin selaku Direktur Utama BJB Syariah (masing-masing dilakukan penuntutan terpisah) dari bulan Juni tahun 2014 sampai dengan bulan Juli Tahun 2016, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum.

Dikatakan JPU,  terdakwa Andi Winarto selaku Direktur Utama PT. HSK dalam mengajukan pembiayaan pembelian kios oleh 161 End User melalui PT. HSK pada Garut Super Blok kepada BJB Syariah sebanyak empat kali pada tahun 2014 s/d 2015 sebesar Rp. 566 milyar lebih sengaja memberikan agunan berupa sertifikat tanah yang masih menjadi agunan dan dikuasai oleh Bank Muamalat Indonesia, menggunakan data end user yang tidak memiliki kemampuan dan tidak memenuhi persyaratan pembiayaan
Terdakwa Andi melakukan tindakan yang menyimpang dari Perjanjian Kerjasama PT. HSK dengan BJB Syariah namun, dengan melanggar ketentuan-ketentuan pembiayaan yang berlaku pada BJB Syariah, Yocie Gusman dan Terdakwa Ali Nuridin tetap menyetujui pemberian pembiayaan bahkan mendesak mempercepat proses pembiayaan kepada PT. HSK.

Pada tahu 2016 Andi Winarto  telah menggunakan secara tidak sah CV. Dwi Manunggal Abadi (CV. DMA) milik Lie Sution Wiladi yang tidak memiliki kemampuan dalam mengajukan pembiayaan kepada BJB Syariah untuk pembelian tanah dan bangunan di jalan Malabar Nomor 31 Bandung milik Andi Winarto sebesar         Rp. 85 milyar   namun,  melanggar ketentuan-ketantuan pembiayaan yang berlaku pada BJB Syariah, Yocie Gusman tetap menyetujui pembiayaan bahkan meminta pihak Divisi Pembiayaan BJB Syariah.

Untuk mempercepat proses pembiayaan kepada CV. DMA. Tindakan terdakwa Andi Winarto bersama-sama Yocie Gusman dan Terdakwa Ali Nuridin (khusus untuk pembiayaan kepada PT. HSK) bertentangan dengan ketentuan-ketentuan pemberian pembiayaan yang berlaku dan mengikat BJB Syariah yaitu Undang-Undang Perbankan, Undang undang Perbankan Syariah, Peraturan Bank indonesia, Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia, Surat Keputusan Direksi BJB Syariah serta perjanjian antara BJB Syariah dengan PT. HSK maupun CV. DMA.

Perbuatan terdakwa Andi Winarto bersama-sama Yocie Gusman, dan Terdakwa Ali Nuridin dalam pemberian pembiayaan pembelian kios GSB kepada 161 end user melalui PT. HSK tahun 2014 s.d 2015 dan kemudian dana pencairan pembiayaan pembiayaan kepada End user oleh BJB Syariah sudah dialihkan semua kepada rekening Terdakwa Andi Winarto atau suatu korporasi PT. HSK dan telah mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan Negara sebesar Rp. 548 milyar lebih berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Badan Pemeriksaan Keuangan Nomor: 49/LHP/XXI/12/2017 .

Dan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Badan Pemeriksaan Keuangan Nomor 12/LHP/XXI/02/2018 perbuatan terdakwa  telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp. 84 milyar lebih  dalam pemberian pembiayaan kapada CV. Dwi Manunggal Abadi pada tahun 2016.

Sidang oleh majelis hakim  ditunda satu minggu untuk memberikan kesempatan lepada para terdakwa/penasehat hukumnya  melakukan  pembelaan/pledoi. (SUR).

No comments

Powered by Blogger.