Header Ads

Mabes Polri Diminta Segera Periksa cap Jempol Ahli Waris Taih Bin Lantjong

Tiga Dari Empat Ahli Waris Taih Bin Lantjong
Jakarta,BERITA-ONE.COM-Para ahli Waris Taih Bin Lantjong  yang jumlahnya 4 orang akan  menghadap Kapolri Jenderal Prof DR H Tito Karnavian  hari Selasa  mendatang (19/3/2019) sebagai tindak lajut terhadap surat yang dikirimkan kepadanya beberapa waktu lalu.

Hal ini disampaikan oleh Selamat Siahaan SH selaku  kuasa hukum para ahli waris Taih Bin Lantjong yang terdiri 4 orang masing  masing Yani Binti Lantjong, Inah Binti Lantjong, Imah Binti Lantjong dan Inih Binti Latjong, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat , 13  Maret 2019.

Dikatakan, kami akan  mengadap kepada Kapolri dengan  tujuannya untuk minta kepastian,  kapan pihak Lapkrim  Mabes Polri akan mengambil alih pemeriksan Cap Jempol terhadap  klien kami yang jumlahnya 4 orang  yang ada dalam Akta Pembagian Harta Warisan  karena  diduga palsu.

" Jika hal ini tidak dilakukan dengan segera,  kasus sengketa tanah ahli waris Taih Bin Lantjong ini akan  menjadi abu-abu, dan uang negara sebesar Rp 10,7 milyar lebih ini dikhawatirkan akan jatuh ketangan yang tidak bertangung jawab", kata Selamat Seiahaan SH.

Dikatakan Selamet, pada 22 Februari 2019 ahli waris Taih Bin Lantjong berkirim surat kepada Kapolri berkaitan  LP. NO: 042/Pen.PID/2019/PN/JKT.TIM tanggal 16 Januari 2019  yang isinya meminta Pemeriksaan Cap Jempol dalam Akta Pembagian Harta  Warisan  kliennya  harus dilakan melalui Labkrim Mabes Polri.

Dijelaskan, semasa hidupnya Taih Bin Lantjong miliki sebidang tanah girik NO: 268, Persil 25b, SIII dengan luas 12.595 M2 dan berubah dengan Surtifikat NO: 79/Lub. Buaya, Pasar Rebo ,9Jakarta Timur.
Atas dasar Fatwa Waris dari Pengadilan Agama Jakarta Timur NO: 77/C/1983 tanggal 22 Februari 1983 memerangkan; nama nama ahli waris Taib Bin Lantjong diantaranya istri Pertama dan istri Kedua.

Dengan dasar Fatwa  Waris tersebut dilakukan balik nama terhadap Surtifikat NO: 79/Lub. Buaya menjadi atas nama 11 orang ahli waris yaitu ; Istri Pertama Tjiker dengan 5 irang anak antara lain Nani Anan, Naman, Ganuk, Napih. Sedangkan istri Kedua  Iyo Binti Detol dengan 6 orang anak, masing  masing Imah, Yani, Inah dan Inih.

Pada tahun 2013, sebagian dari tanah tersebut  yaitu 4.907 M2 terkena normalisasi kali Sunter, dengan nilai ganti rugi Rp 10,7 milyar lebih yang sekarang ini diperebutkan oleh anak dari isteri Pertama Taih Bin Lantjong yaitu Dian Andrian Bin Anan. Sedangkan anak dari isrti Kedua supaya dibagi 60:40%. Akan tetapi,  permintaan anak  Istri Pertama 100% miliknya.

Pada 16 Januari 1989 terbitlah Akta Pembagian Harta Warisan  NO: 120/PHW/I/1989 dari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur, yang isinya nama nama ahli waris Taih Binti Lantjong  menandatangani/cap jempol pada akta tersebut.

Anak anak dari istri Kedua Taih Bin Lantjong yang terdiri Imah, Yani, Inah dan Anih, telah menyangkal kalau mereka tidak pernah  melakukan Cap Jempol pada Akta Pembagian Harta Warisan tersebut. Dan   mereka malah menyatakan kalau Akta itu adalah hasil rekayasa/dipalsukan oleh keluarga terlapor.

Berkaitan Laporan Polisi diatas, Polres Jakarta Timur telah  mempunyai ijin khusus dari Pengadilan Negeri JakartaTimur NO: 042/PEN/ .Pid/2018/PN. JKT. TIM tanggal 16 Januari 2018 guna untuk menyita Surat Asli berupa Akta Pembagian Harta Warisan dan Surat Pernyataan dari WARKAH  BPN Kakarta Timur.

Gunanya, untuk dilakukan pemeriksaan di  Labkrimabes Polri. Bila hal ini tidak dilakukan, berarti ada unsur kesengajaan, Polri membuat kasus ini  menjadi kabur/gelap, dan uang negara Rp 10,7 milyar lebih ini akan lenyap,  karena dibayarkan kepada Dian Ardian oleh Pemda DKI.

" Untuk itu kami mohon ketegasan dari Kapolri menangani kasus ini segara mungkin guna mengamankan  uang negara sebesar itu agar  tidak hilang sia sia" kata Selamat Siahaan SH. (SUR).

No comments

Powered by Blogger.